Belajar Bahasa Mandarin dari Nol di Usia Dewasa, Apakah Bisa?
Belajar Bahasa Mandarin sering kali masuk ke daftar “ingin dipelajari”, tetapi terus tertunda karena merasa sudah terlambat.
Terlebih bagi yang baru mulai di usia 20-an atau bahkan lebih dewasa, Mandarin terlihat cukup menantang. Ada pinyin, empat nada, Hanzi, hingga struktur kalimat yang mungkin terasa berbeda dari bahasa yang sudah biasa digunakan.
Belum lagi jika tujuan belajarnya cukup serius, seperti mempersiapkan HSK, melanjutkan studi ke China, atau menunjang peluang karier.
Jadi, apakah belajar Bahasa Mandarin dari nol di usia dewasa masih memungkinkan?
Justru, Orang Dewasa Memiliki Beberapa Keuntungan
Belajar ketika sudah dewasa tidak berarti harus memulai dari cara belajar seperti anak-anak.
Orang dewasa umumnya sudah memiliki pengalaman belajar dan kemampuan untuk memahami konsep secara lebih sistematis. Hal ini dapat membantu ketika harus mempelajari struktur bahasa, menghubungkan vocabulary, atau memahami pola tertentu.
Penelitian yang dipublikasikan melalui NCBI juga menunjukkan bahwa orang dewasa mampu mempelajari aspek tata bahasa bahasa kedua bahkan melalui paparan yang tidak selalu dilakukan secara eksplisit.
Jadi, tantangannya bukan sekadar “sudah dewasa atau belum”, tetapi bagaimana proses belajarnya dirancang agar sesuai dengan kemampuan dan tujuan masing-masing.
Kenapa Mandarin Terasa Sulit untuk Pemula?
Mandarin memang memiliki beberapa karakteristik yang membuatnya berbeda dari Bahasa Indonesia.
1. Ada Empat Nada
Mandarin merupakan bahasa tonal. Artinya, perubahan nada ketika mengucapkan sebuah suku kata dapat memengaruhi maknanya.
Karena itu, belajar Mandarin bukan hanya menghafalkan vocabulary. Pronunciation dan listening juga perlu dilatih sejak awal.
Bagi pemula, bagian ini memang membutuhkan pembiasaan. Semakin sering mendengar dan mempraktikkannya, semakin mudah membedakan pola suara yang sebelumnya terasa asing.
2. Ada Pinyin dan Hanzi
Pemula biasanya akan berkenalan dengan pinyin, sistem romanisasi yang membantu memahami pengucapan Bahasa Mandarin.
Setelah mulai memahami pinyin, pembelajaran dapat dilanjutkan dengan Hanzi, yaitu karakter Mandarin.
Tidak perlu langsung menghafalkan banyak karakter sekaligus. Hanzi dapat dipelajari secara bertahap sesuai level dan kebutuhan.
3. Pola Kalimatnya Perlu Dibiasakan
Selain vocabulary, pelajar juga perlu memahami bagaimana kata-kata tersebut digunakan dalam kalimat. Daripada hanya menghafal, pelajar perlu memahami bagaimana kata-kata tersebut digunakan untuk membentuk kalimat yang natural.
Karena itu, memahami pola kalimat dan berlatih menggunakannya menjadi bagian penting dalam belajar Mandarin.
Kalau Mulai dari Nol, Harus Belajar Apa Dulu?
Tidak perlu langsung memikirkan HSK level tinggi atau menghafalkan ribuan Hanzi. Untuk pemula, prosesnya bisa dimulai dari beberapa fondasi:
Pinyin & pronunciation
Mengenal cara membaca dan mengucapkan kata dengan benar.
Four tones
Melatih kemampuan mendengar sekaligus menghasilkan empat nada Mandarin.
Basic vocabulary
Mulai dari vocabulary yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Basic sentence patterns
Belajar memperkenalkan diri, bertanya, menjawab, dan membuat kalimat sederhana.
Hanzi
Mulai mengenali karakter secara bertahap seiring perkembangan kemampuan.
Fondasi ini penting karena kemampuan Mandarin tidak dibangun hanya dari menghafalkan vocabulary sebanyak mungkin.
Berapa Lama Sampai Bisa Bahasa Mandarin?
Tidak ada waktu pasti yang berlaku untuk semua orang.
Perkembangan akan dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti:
seberapa sering mengikuti kelas,
berapa banyak waktu untuk latihan
metode belajar
tujuan belajar,
kemampuan awal,
dan seberapa sering menggunakan Mandarin di luar kelas.
Jadi, daripada menetapkan target seperti “harus bisa Mandarin dalam tiga bulan”, lebih baik menentukan target kemampuan yang lebih jelas.
Mulai Belajar Mandarin dari Nol Bersama OAKLEARN
Belajar Mandarin dari nol akan terasa lebih terarah ketika materi disesuaikan dengan level dan tujuan belajar.
Di OAKLEARN Center, program Bahasa Mandarin menggunakan pendekatan interaktif melalui praktik komunikasi, role play, discussion, games, dan aktivitas yang mendorong siswa untuk menggunakan bahasa secara aktif.
Sebelum mengikuti kelas, siswa juga dapat mengikuti placement test untuk mengetahui level kemampuan dan menentukan kelas yang sesuai.
Bagi teens dan adults yang memiliki target HSK atau melanjutkan studi ke China, pembelajaran juga dapat diarahkan sesuai tujuan tersebut.